My Name is

25.8.09

Tausiyah

Ilmu pembersih hati

Ada sebait do’a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do’a tersebut berbunyi : Allaahummanfa’nii bimaa allamtanii wa’allimnii maa yanfa’uni wa zidnii ilman maa yanfa’unii. dengan do’a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat.

Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandung mashlahat - memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermamfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, “Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun!

Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan mamfaat darinya.

Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.

Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.

Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.

Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.

Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.

Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?

Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.***(Ilmu pembersih hati

(di kutip dari http://www.islam-rahmatalam.co.cc/?p=49#more-49)

21.8.09

Marhaban Ya Ramadhan

Alhamdulillah masih diberikan umur yang panjang untuk bertemu dengan bulan yang penuh berkah,bulan penuh rahmat dan ampunan...
hari ini menjadi hari pertama aku berpuasa,malam tadi menjadi malam pertama untuk menjalankan ibadah sunat shalat tarawih berjamaah di rumah bersama mama,abah dan kakakku,jam 4.15 aku bersahur dengan mama,abah,dan kakakku,menu sahur aku adalah sepiring nasi,sepotong telor dadar,dan satu gelas teh panas,kemudian dilanjutkan dengan 2 gelas air putih...selesai sahur untuk menunggu adzan subuh aku menonton tv sebentar,kemudian membaca Al-Qur'an beberapa ayat,sirene mesjid berbunyi tanda waktu shalat subuh tiba,kami shalat subuh berjamaah,selesai shalat aku tidur lagi,baru bangun jam 8.30...masih dalam suasana libur semester jadi aku kebanyakan menghabiskan waktu di rumah,jm 10 aku membersihkan kipas angin butut penuh debu yang ada di kamar,selesai membersihkan aku menonton tv,acara yang aku tonton adalah acara memasak,alasan aku menonton itu adalah setting tempat yang menampilkan latar belakang yang mempesona,hijaunya alam pegunungan dengan pohon-pohon yang indah dan terdapat terasering yang menarik,ingin rasanya memiliki rumah yang berada dalam suasana tersebut,aku bisa kapan saja menikmati pemandangan indah nan menyejukkan hati...selesai sudah acara memasak,aku memindah channel namun acaranya rata-rata adalah acara gosip,aku pun mematikan tv kemudian mengambil hp dan memposting blog ini...jam sekarang menunjukkan 11.30

6.8.09

Tidur sang Pemimpi

Hidup ini bagaikan persimpangan jalan,tinggal kita yg memilih untuk menuju jalan yg mana,tak terlepas dari tujuan hidup kita di dunia ini,ibaratkan belok kanan adlh jalan yang benar,namun jalannya yg rusak,macet,dan terdapat razia dari polisi sedangkan kta mempunyai kesalahan sehingga kita takut untuk melewatinya...sedangkan belok kiri adalah jalan yang mulus dan tanpa rintangan..Sehingga banyak orang yg ingin belok kiri...Namun yg membedakan dari kedua belokan tersebut adalah tujuan dan akhir dari perjalanan,jika kita belok kanan maka untuk melintasinya perlu waktu dan kerja keras pantang menyerah untuk mencapai tujuan akhir dalam hal ini adalah kesuksesan,,,jika belok kiri maka akan dimuluskan jalan kesana namun pada akhir perjalanan akan menuju ke jurang kehancuran dan kesengsaraan...pilih yang mana?jelas kalau kita melihat dari tujuan hidup untuk memilih belok kanan,namun jika melihat jalan untuk menempuh tujuan maka akan memilih belok kiri...sering orang melakukan kesalahan karena alasan terpaksa atau keadaan lah yang memaksanya untuk berbuat khilaf..
Tapi tulisan di atas tadi hanyalah sebuah teori,bagaimana kenyataannya dalam hidupku?sulit untuk menyebutkan,satu sisi aku seperti melangkahkan kaki untuk belok kanan,namun di sisi lain juga terkadang memilih belok kiri

Aku bermimpi dan akan berusaha mewujudkan mimpiku ini, bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia dan di akhirat kelak bersama orang-orang yang aku sayangi...